05 Februari 2008

Selamat Jalan Pak Harto !!

Innalillahi wa'inailaihi roji'un,

Hari Ahad pukul 13.10 WIB tanggal 27 Jan 2008, mantan Presiden Soeharto meninggal dunia di Rumat Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Hal ini dijelaskan langsung dalam jumpa pers oleh ketua tim dokter kepresidenan dr. Mardjo Soebiandono, dan anak tertua Pak Harto Siti Hardiyanti Rukmana. Dalam jumpa pers tersebut, Mbak Tutut mengucapkan banyak terimakasih atas segala do'a yang telah dipanjatkan kepada Beliau oleh semua pihak dan meminta maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan oleh Pak Harto dan mendoakan semoga arwah beliau diterima Allah dan diampuni segala dosa-dosanya. Sementara itu Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono yang sedianya akan melakukan kunjungan ke Bali dalam rangka menghadiri konferensi anti korupsi pukul 14.00 WIB membatalkan kunjungannya. Presiden juga menetapkan hari berkabung nasional selama 7 hari mulai hari ahad sampai pekan depan.

Astana Giribangun. Di sanalah jasad Soeharto kembali ke pembaringannya yang terakhir. Di sana pula, Siti Hartinah, sang istri telah dimakamkan, hampir dua belas tahun silam.
Soeharto telah mengungkap keinginannya berdampingan dengan istrinya jauh-jauh hari. ''... masa'kan saya akan pisah dari istri saya! Dengan sendirinya, saya pun akan minta dimakamkan di Astana Giribangun bersama keluarga,'' katanya dalam otobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. ''Kami tidak mau menyusahkan anak cucu kami, jika mereka nanti ingin berziarah.''

Astana Giribangun adalah kompleks makam khusus keluarga Yayasan Mangadeg Surakarta. Bernama Astana Giribangun karena berlokasi di atas Bukit Giribangun, yang puncaknya dikenal sebagai Bukit Mangadeg. Letaknya sekitar 37 kilometer dari Solo.
Penentuan lokasi pemakaman ini memang telah direncanakan secara matang. Letaknya di atas bukit juga dipilih agar tidak mengganggu atau diganggu masyarakat sekitar. Astana Giribangun memang satu-satunya bangunan di puncak bukit itu dengan latar belakang pepohonan hijau yang lebat. Jalan menuju kompleks makam tidak terlalu lebar, menanjak,danberkelok-kelok.

Tak hanya keluarga, Pengurus Yayasan Mangadeg pun bisa dimakamkan di sana. ''Tempat itu sudah dikapling, dan pengelolaannya diserahkan pada Yayasan Mangadeg Surakarta,'' kata Soeharto dalam otobiografinya. Kompleks makam juga dilengkapi bangunan pendukung di sekelilingnya. Ada paseban selatan, paseban timur, dan di sebelah barat disediakan bangunan pantry dan sebuah mushala, juga rumah untuk juru kunci makam.
Banyak orang berkomentar miring perihal persiapan Soeharto membuat kuburan. Sebenarnya, kata Soeharto, kuburan itu mereka buat untuk yang sudah meninggal, di antaranya untuk ayah mertuanya. Adalah kewajiban bagi orang yang masih hidup untuk memikirkan keluarga yang sudah meninggal, sehingga dibangunlah makam keluarga.

''Selain itu, pikiran saya menyebutkan, 'Apa salahnya, sebab toh akhirnya kita akan meninggal juga. Kalau mulai sekarang kita sudah memikirkannya, itu berarti kita tidak akan menyulitkan orang lain'.''
Lagipula, di Jawa, katanya, memang biasa menyiapkan tempat sebelum meninggal. ''Kita menyadari bahwa besok lusa kita toh akan kembali.''

Sumber : Beberapa Media

0 komentar:

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP