Selamat Jalan Pak Harto !!
Innalillahi wa'inailaihi roji'un,
Soeharto telah mengungkap keinginannya berdampingan dengan istrinya jauh-jauh hari. ''... masa'kan saya akan pisah dari istri saya! Dengan sendirinya, saya pun akan minta dimakamkan di Astana Giribangun bersama keluarga,'' katanya dalam otobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. ''Kami tidak mau menyusahkan anak cucu kami, jika mereka nanti ingin berziarah.''
Astana Giribangun adalah kompleks makam khusus keluarga Yayasan Mangadeg Surakarta. Bernama Astana Giribangun karena berlokasi di atas Bukit Giribangun, yang puncaknya dikenal sebagai Bukit Mangadeg. Letaknya sekitar 37 kilometer dari Solo.
Penentuan lokasi pemakaman ini memang telah direncanakan secara matang. Letaknya di atas bukit juga dipilih agar tidak mengganggu atau diganggu masyarakat sekitar. Astana Giribangun memang satu-satunya bangunan di puncak bukit itu dengan latar belakang pepohonan hijau yang lebat. Jalan menuju kompleks makam tidak terlalu lebar, menanjak,danberkelok-kelok.
Tak hanya keluarga, Pengurus Yayasan Mangadeg pun bisa dimakamkan di sana. ''Tempat itu sudah dikapling, dan pengelolaannya diserahkan pada Yayasan Mangadeg Surakarta,'' kata Soeharto dalam otobiografinya. Kompleks makam juga dilengkapi bangunan pendukung di sekelilingnya. Ada paseban selatan, paseban timur, dan di sebelah barat disediakan bangunan pantry dan sebuah mushala, juga rumah untuk juru kunci makam.
''Selain itu, pikiran saya menyebutkan, 'Apa salahnya, sebab toh akhirnya kita akan meninggal juga. Kalau mulai sekarang kita sudah memikirkannya, itu berarti kita tidak akan menyulitkan orang lain'.''
Lagipula, di Jawa, katanya, memang biasa menyiapkan tempat sebelum meninggal. ''Kita menyadari bahwa besok lusa kita toh akan kembali.''

0 komentar:
Poskan Komentar